Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan (Sumatera Utara)

Adalah Datu Dalu dan Sangmaima, dua orang bersaudara yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit. Kedua orang tua mereka bekerja mencari nafkah sebagai ahli pengobatan. Mereka pandai mencari tumbuhan obat di hutan dan meramunya menjadi obat-obatan. Meskipun hidup dalam kemiskinan, Sang Ayah sangat ingin kedua anaknya mewarisi keahlian yang dimilikinya yaitu bela diri silat dan meramu obat-obatan. Ia mengajari kedua anaknya sedari kecil cara meramu obat dan berlatih silat.

Di suatu hari, seperti biasanya, kedua orang tua Datu Dalu dan Sangmaima pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan.

“Datu Dalu, Sangmaima! Ayah dan Ibu pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Kalian baik-baiklah di rumah.” kata sang Ayah.

“Baik ayah ibu.” jawab Datu Dalu dan Sangmaima.

Datu Dalu dan Sangmaima menunggu kedua orang tuanya mencari obat-obatan di hutan. Biasanya kedua orang tuanya akan pulang ke rumah menjelang sore hari. Namun hari itu berbeda. Hingga sore hari, kedua orang tua mereka belum juga pulang. Datu dan adiknya memutuskan untuk menyusul kedua orang tuanya.

“Sangmaima, adikku! Ayah Ibu belum juga pulang dari hutan. Kakak khawatir terjadi apa-apa pada mereka berdua. Ayo kita ke hutan mencari cari Ayah dan Ibu.” kata Datu Dalu.

“Baik Abang.” jawab Sangmaima.

Setelah sekian lama berjalan di hutan, akhirnya Datu dan adiknya berhasil menemukan kedua orang tua mereka. Namun sayang, kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau. Dengan perasaan sedih, kedua kakak beradik itu segera membawa jenazah kedua orang tuanya pulang ke rumah.

Datu Dalu dan adiknya, dibantu warga desa, segera menguburkan kedua orang tua mereka. Selanjutnya mereka pun membagi harta warisan peninggalan kedua orang tua mereka yang hanya berupa sebuah tombak pusaka. Sesuai adat yang berlaku saat itu, tombak pusaka tersebut harus menjadi hak anak tertua yaitu Datu Dalu.

Sangmaima hendak berburu babi di hutan. Untuk keperluan tersebut, ia meminjam tombak pusaka milik kakaknya.

“Abang, adik hendak berburu babi hutan. Bolehkan adik meminjam tombak pusaka milik Abang?” tanya Sangmaima.

“Pakailah tombak itu. Tapi ingat, jaga baik-baik, karena itu peninggalan orang tua kita.” jawab Datu Dalu.

“Terima kasih Abang. Adik akan menjaga baik-baik tombak pusaka Abang.” jawab Sangmaima.

Berangkatlah Sangmaima ke hutan dengan membawa tombak pusaka milik abangnya. Setelah sekian lama berjalan di hutan, akhirnya Sangmaima melihat seekor babi hutan melintas di depannya. Segera ia lemparkan tombaknya ke arah babi hutan itu. Dengan ketangkasannya, tombak tersebut tepat mengenai lambung babi hutan. Namun si babi hutan lari ke dalam semak-semak. Kontan Sangmaima merasa cemas karena tombak pusaka milik abangnya terbawa.

“Aduh bagaimana ini. Tombak milik abangku terbawa babi hutan. Aku harus cepat mengejarnya.” Sangmaima segera berlari mengejar si babi hutan. Sangmaima behasil menemukan gagang tombaknya sementara mata tombaknya masih tertancap di lambung si babi.

“Abangku bisa marah kalau tahu tombaknya hilang.” Sangmaima lantas mencari-cari babi hutan tersebut namun setelah sekian lama berjalan di hutan, ia tidak menemukannya. Karena merasa lelah, Sangmaima memutuskan untuk pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, Sangmaima segera memberitahukan perihal hilangkanya tombak pusaka tersebut. “Maaf Abang. Mata Tombak Pusaka abang tertancap di lambung babi hutan yang lari ke dalam hutan. Hanya gagang tombak ini bisa adik bawa.”

“Sudah Abang bilang, jagalah tombak itu baik-baik. Sekarang Adik carilah mata tombak itu sampai dapat. Abang tidak mau tahu.” Datu Dalu marah besar.

“Baiklah Abang.” Sangmaima saat itu juga segera pergi kembali ke hutan untuk mencari mata tombak yang tertancap di lambung babi hutan.

Sangmaima berjalan di hutan dengan sangat hati-hati dan teliti. Ia berhasil menemukan jejak kaki babi hutan tadi dan berusaha menelusurinya hingga sampai di tengah hutan. Disana ia menemukan sebuah lubang besar mirip gua. Dengan rasa penasaran Sangmaima memasuki lubang tersebut hingga ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima ketika mendapati bahwa di dalam lubang tersebut ia menemukan sebuah istana sangat megah.

“Siapa yang membangun istana megah di dalam tempat ini.” gumam Sangmaima.

Sangmaima terus berjalan lebih jauh lagi karena merasa penasaran. Tampaklah olehnya seorang wanita cantik tengah terbaring dan merintih kesakitan. Sangmaima terkejut melihatnya, terlebih di perut si wanita cantik yang terluka, tertancap mata tombak pusaka milik abangnya.

“Duhai wanita cantik, siapakah engkau?”

“Aku adalah seorang putri. Ayahku adalah seorang raja di istana ini.”

“Mohon maaf, kenapa perut anda terluka. Dan lagi, itu adalah mata tombak yang hamba lemparkan pada seekor babi hutan tadi.” kata Sangmaima.

“Babi hutan yang kamu lempar tombak adalah Aku.” jawab si putri.

“Maafkan Aku tuan Putri. Aku tidak tahu kalau babi hutan itu adalah seorang putri. Aku mengetahui ilmu pengobatan, izinkan hamba untuk menyembuhkan tuan Putri.” kata Sangmaima.

“Silahkan, sembuhkan lukaku di perutku ini.” kata tuan Putri.

Sangmaima kemudian berusaha mengobati luka tuan putri dengan berbekal pengetahuan pengobatan dari ayahnya. Tidak lama kemudian tuan putri pun sembuh dari sakitnya. Sangmaima kemudian berpamitan pada tuan putri karena harus pulang untuk mengembalikan mata tombak pusaka milik kakaknya.

Sangmaima segera mengembalikan mata tombak pusaka kepada abangnya, Datu Dalu. Tentu saja Datu Dalu merasa sangat gembira karena tombak pusaka miliknya telah kembali. Untuk merayakan kembalinya tombak pusaka, Datu Dalu mengadakan pesta adat secara besar-besaran.

Banyak orang diundang ke acara pestanya namun ia tidak mengundang adiknya sendiri, Sangmaima. Merasa tersinggung karena tidak diundang abangnya, Sangmaima kemudian mengadakan pesta tandingan yang waktunya bersamaan dengan acara pesta abangnya. Untuk memeriahkan acara pestanya, Sangmaima mengadakan acara pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi sedemikian rupa hingga menyerupai seekor burung Ernga. Banyak orang yang tertarik untuk melihat pertunjukan burung Ernga tersebut, akibatnya pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sepi pengunjung.

Datu Dalu merasa kecewa melihat kenyataan pesta yang ia adakan sepi pengunjung. Mengetahui pesta adiknya ramai karena adanya pertunjukan burung Ernga, ia pun meminjam pertunjukan kepada adiknya untuk memikat para tamu.

“Adikku, bolehkah abang meminjam pertunjukan burung Ernga?” tanya Datu Dalu.

“Boleh Abang, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga itu jangan sampai hilang.” kata Sangmaima.

“Tentu saja adik, Abang akan menjaganya.” kata Datu Dalu.

Segera setelah pesta di rumahnya selesai, Sangmaima kemudian mengantar wanita burung Ernga ke rumah abangnya. Datu Dalu merasa gembira karena pestanya ramai dikunjungi orang yang ingin menyaksikan pertunjukan burung Ernga. Diam-diam Sangmaima menyelinap ke langit-langit rumah abangnya menunggu pesta usai. Di malam hari, setelah pesta usai, Sangmaima menemui wanita burung Ernga untuk memintanya pergi di pagi hari agar abangnya mengira bahwa ia hilang.

“Besok pagi engkau pergilah diam-diam agar abangku mengira engkau hilang.” kata Sangmaima kepada wanita burung Ernga.

“Baiklah Tuan, besok aku akan pergi.” kata si wanita burung Ernga.

Keesokan harinya, Datu Dalu merasa panik karena wanita burung Ernga tidak ada di kamarnya. “Aduh bagaimana ini, wanita burung Ernga hilang. Adikku pasti marah kalau mengetahui hal ini.”

“Abang, mana wanita burung Ernga itu. Aku mau membawanya pulang.” kata Sangmaima berpura-pura tidak tahu.

“Aduh, maafkan Abang, adikku. Wanita burung Ernga itu hilang entah kemana. Bagaimana kalau Abang ganti dengan uang?” kata Datu Dalu.

“Apa burung Ernga itu hilang? Tidak bisa diganti uang. Abang harus mencarinya sampai dapat.” kata Sangmaima.

Keduanya kemudian bertengkar hebat hingga berujung pada perkelahian. Datu Dalu dan Sangmaima saling menyerang menggunakan jurus-jurus silat yang diajarkan ayah mereka. Sekian lama mereka bertarung, tidak ada tanda-tanda siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Kemampuan keduanya terlihat seimbang.

Datu Dalu kemudian mengambil sebuah lesung dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah adiknya. Sangmaima menghindar, sehingga lesung tersebut melayang dan kemudian jatuh di kampung Sangmaima. Keajaiban terjadi, tempat jatuhnya lesung tersebut berubah menjadi sebuah danau.

Tidak mau kalah dengan Abangnya, Sangmaima mengambil piring lalu ia lemparkan dengan sekuat tenaga ke arah abangnya. Datu Dalu berhasil menghindar, sehingga piring tersebut melayang jauh dan terjatuh di kampung Datu Dalu. Keajaiban terjadi, tempat jatuhnya piring tersebut berubah menjadi sebuah danau pula.

Masyarakat kemudian menamai danau di kampung Sangmaima dengan nama Danau Si Losung. Sedangkan danau di kampung Datu Dalu dinamai Danau Si Pinggan. Demikian cerita rakyat Sumatra Utara, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Utara, mengenai asal mula Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan.