Kisah Nabi Adam as.

Dahulu kala, semua yang kita lihat ini tidak ada. Hanya Allah yang ada. Allah lalu menciptakan malaikat dari cahaya. Selain itu, diciptakan juga langit, bulan, bintang, matahari, dan benda langit lain. Termasuk juga di antaranya bumi yang sekarang kita tempati ini. Allah jugalah yang menciptakannya.

Setelah bumi diciptakan, Allah lalu menempatkan binatang dan tumbuhan di bumi. Pada masa itu, binatang-binatangnya sangat besar. Kita mengenalnya sebagai dinosaurus.

Tidak lama kemudian, Allah menciptakan jin. Jin adalah makhluk yang bisa berubah bentuk menjadi apa saja yang dia inginkan. Para jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sama seperti manusia. Tetapi, seiring waktu, ada yang beriman, ada juga yang menjadi kafir.

Nah, ketika seluruh alam raya sudah diciptakan, barulah Allah men­ciptakan Adam dari tanah liat. Bisa dikatakan Adam adalah manusia pertama di bumi. Tugasnya selain beribadah kepada Allah adalah menjadi khalifah, yaitu pemimpin di bumi.

Pada saat itu, malaikat merasa heran dan bertanya, “Wahai Allah, Tuhanku, mengapa Engkau menciptakan manusia? Bukankah dia akan jadi makhluk yang membangkang kepada-Mu?”

Allah menjawab, “Sesungguhnya, Aku Mahatahu.”

Jawaban ini membuat para malaikat terdiam.

Oleh karena mereka diciptakan menjadi pemimpin, malaikat dan jin pun diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Tanpa membantah, malaikat segera menurutinya. Hal ini berbeda dengan para jin. Mereka menolak perintah Allah itu.

“Hai Iblis!” tegas Allah. “Kenapa engkau tidak mau bersujud kepada Adam?”

“Wahai, Allah. Dia diciptakan dari tanah liat yang menjijikkan dan kotor. Sementara aku tercipta dari api yang menyala. Aku lebih baik dari Adam. Aku tidak mau bersujud kepadanya!” jawab iblis sombong.

Allah pun murka mendengarnya. “Turunlah kamu dari surga! Kamu tidak patut menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan!”

Sebelum turun dari surga, Iblis menjawab, “Engkau telah memerintah­kanku untuk turun dari surga dan aku dihukum sebagai makhluk yang sesat. Maka, aku benar-benar akan menghalangi Adam dan seluruh keturunannya untuk jauh dari jalan-Mu. Aku akan menyesatkan mereka.”

Hawa Diciptakan

Sepeninggal iblis, Adam ditempatkan di surga. Surga adalah tempat yang indah. Semuanya serba ada. Apa pun yang dibutuhkan dan diinginkan Adam, dapat ditemukan dengan mudahnya.

Siapa yang tidak senang dengan semua kesempurnaan ini. Tetapi, lama kelamaan Adam mulai merasa kesepian. Di surga tidak ada siapa- siapa. Dia ingin ada seseorang yang bisa menemaninya.

Allah kemudian menciptakan seorang manusia lagi, kali ini seorang perempuan yang bernama Hawa tanpa sepengetahuan Adam.

Pada saat itu, Adam sedang tidur karena kelelahan setelah mengeli­lingi surga. Ketika terbangun, dia terkejut melihat Hawa.

“Siapa kamu? Mengapa kamu ada di sini?”

“Aku adalah makhluk sepertimu yang diciptakan oleh Allah,” jawab Hawa.

Malaikat, Adam, dan Hawa segera sujud kepada Allah atas karunia ini. Mulai saat itulah, mereka hidup tenang dan tenteram. Tetapi, Allah juga memberi peringatan kepada mereka agar tidak mendekati pohon buah Khuldi apalagi memakan buahnya.

Sayangnya, sesuai janji para iblis, mereka terus berusaha menggoda Adam dan Hawa. Berbagai usaha dilakukan, tetapi pendirian Adam dan Hawa sangat kuat. Hal ini berlangsung terus-menerus dan tidak berhasil. Kali ini mereka merasa mendapat kesempatan besar untuk menjatuhkan Adam, yaitu melalui buah Khuldi.

Ketika itu, Adam dan Hawa sedang beristirahat. Mereka juga merasa haus dan lapar. Iblis tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengubah wujudnya menjadi seekor ular lalu mendekati Adam dan Hawa.

“Hai, Adam dan Hawa, maukah kalian kutunjukkan buah yang paling lezat di surga? Buah itu adalah buah Khuldi.”

Adam dan Hawa merasa heran. “Allah melarang kami untuk men­dekatinya. Apa lagi untuk memakannya,” jawab Adam.

“Demi Allah,” Iblis memulai sumpah palsunya, “Aku tidak membujuk kalian. Aku akan memberitahu mengapa kalian tidak boleh memakan buah Khuldi ini. Sebelum kalian diciptakan, Allah telah berkata bahwa kalian tidak bisa hidup abadi. Kalian tidak akan menjadi malaikat kecuali kalian memakan buah Khuldi.”

Adam dan Hawa mulai terpengaruh perkataan iblis.

“Sesungguhnya, aku hanya orang yang memberi nasihat kepada kalian,” lanjut iblis untuk lebih meyakinkan Adam dan Hawa.

“Benar juga kata iblis. Apalagi dia telah bersumpah demi Allah,” Hawa pun mulai tergoda.

Adam dan Hawa lalu mengambil buah itu dan memakannya. Ternyata rasanya memang sangat enak, apalagi mereka sedang haus dan lapar.

Hukuman kepada Adam dan Hawa

Setelah memakan buah Khuldi, tiba-tiba pakaian mereka ter­singkap. Karena merasa malu, Adam dan Hawa berlari untuk sembunyi dan menutupi tubuhnya dengan daun-daun. Ternyata inilah peringatan Allah. Adam dan Hawa pun menyesal dan tersadar dari kesalahan mereka.

Merasa sangat bersalah, Adam dan Hawa segera memohon ampunan dari Allah.

“Bukankah Aku telah melarang kalian untuk mendekati pohon itu? Sesungguhnya, iblis adalah musuh nyata bagimu!” kata Allah.

“Ya Tuhan kami,” sesal Adam dan Hawa. “Kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, kami tidak akan merugi.”

Mendengar ini, Allah pun mengampuni mereka. Tetapi, tetap harus ada hukumannya.

“Turunlah kalian dari surga,” perintah Allah, “Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan, kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”

Akhirnya, dengan sangat menyesal, Adam dan Hawa turun ke bumi. Lepas dari surga yang sempurna keindahan dan kenikmatannya. Mulai saat itu juga mereka harus berjuang hidup di muka bumi yang keras, dingin, panas, dan banyak binatang buas.

Pesan :

Adik-adik. Ingat, sampai kiamat nanti, setan dan iblis akan terus menggoda manusia, menggoda kita. Mereka akan membujuk kita untuk memakan yang haram, melakukan perbuatan buruk, dan lain sebagainya. Ini agar kita nanti menjadi teman mereka di neraka. Tentu saja kita tidak mau berada di neraka nantinya, bukan?

Lihatlah, iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa memakan buah yang diharamkan. Hal ini membuat Adam dan Hawa menyesal dan dihukum oleh Allah. Jadikan ini sebagai pelajaran agar kita terhindar dari nafsu akibat godaan setan dan iblis, ya adik-adik.

Ayat Al-Quran Mengenai Nabi Adam

Adik-adik, Nabi Adam a.s. disebut dalam Alquran pada ayat-ayat ini:

  • Surah Al-Baqarah [2]: ayat 31, 33, 34, 35, dan 37
  • Surah Ali-’Imran [3]: ayat 33 dan 39
  • Surah Al-Maidah [5]: ayat 27
  • Surah Al-A’raf [7]: ayat 11,19, 26, 27, 31, 35, dan 127
  • Surah Al-Israa’ [28]: ayat 50
  • Surah Maryam [19]: ayat 58
  • Surah Thaha [20]: ayat 115,116,117,120, dan 121
  • Surah Yasin [36]: ayat 60

Tentang Nabi Adam

  • Usia : 930 tahun
  • Periode sejarah : 5872 – 4942 SM
  • Tempat turunnya : Di bumi India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
  • Jumlah keturunannya (anak) :40 (laki-laki dan perempuan)
  • Tempat wafat : India, ada yang berpendapat di Mekkah