Legenda Telaga Alam Banyu Batuah

Pada zaman dahulu, ada sebuah kampung kecil yang penghuninya kebanyakan dari suku Dayak Biaju yang kebanyakan masih memiliki hubungan pertalian darah. Awalnya, para penduduk tersebut merupakan suku Dayak Ngaju dari Pegunungan Meratus.

Kemudian, mereka pindah ke kaki Pegunungan Bajuin dan berganti nama menjadi suku Dayak Biaju. Di sekitar pegunungan terdapat tambang emas yang menjadi mata pencaharian utama para penduduk dan pendatang. Konon, tambang-tambang emas tersebut adalah harta karun dari seorang laki-laki bernama Nuin.

Suku Dayak Biaju memiliki pemimpin yang senantiasa melindungi penduduknya dari mara bahaya. Baik bahaya yang datang dari luar maupun ancaman-ancaman dari binatang buas, ia sanggup melawannya. Pasalnya,  ia memiliki kesaktian yang luar biasa hebat. Karena kehebatannya, kepala-kepala dari suku lain sangat segan kepadanya.

Ternyata, kesaktiannya tersebut menurun ke anak sulungnya yang bernama Halaban. Meski masih muda, kesakitan Halaban cukup terkenal di beberapa penjuru desa. Ia juga terkenal memiliki sifat pemberani, ramah, dan bijaksana. Tak heran orang-orang juga sangat segan padanya.

Kampung Bajuin sendiri memiliki panorama alam pegunungan yang sangat indah dan memukai. Udara di kawasan ini pun sangat sejuk. Selain itu, ada beragam macam satwa yang hidup di kampung Bajuin.

Saudagar Kaya Raya

Pada suatu hari, ada utusan dari saudagar kaya raya datang menemui Halaban untuk meminta bantuan. Rupanya, anak saudagar kaya itu mempunyai anak yang terkena penyakit dan tak kunjung sembuh.

Jadi, anak itu menderita penyakit yang sangat langka. Ia tiba-tiba saja kehilangan suaranya. Badannya juga selalu demam dan tenggorokannya membengkak. Sebenarnya, saudagar kaya raya ini telah mengundang beberapa tabib. Tapi, tak ada satu pun orang yang bisa menolongnya.

Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan seorang kakek-kakek. Dalam mimpinya, kakek tua itu berkata bahwa sumber air di puncak Bukit Bajuin bisa menyembuhkan anaknya. Setelah mimpi itulah saudagar kaya menyuruh utusannya untuk datang ke Pegunungan Bajuin .

Utusan yang menemui Halaban itu mengatakan anak dari pemimpinnya hanya bisa sembuh bila meminum air dari sumber mata air di pucak Bukit Bajuin. Sayangnya, tak semua orang bisa mengambil sumber mata air dari puncak bukit itu.

Maka dari itulah utusan saudagar kaya tersebut meminta bantuan pada Halaban yang terkenal sakti mandraguna. Sebelum membantu menyembuhkan anak saudagar, Halaban mengajukan beberapa persyaratan. Mereka harus menyediakan 1 ekor ayam hitam, 7 kuntum bunga beraneka warna, dan 3 buah bibit tanaman pohon yang harus ditanam di puncak Bukit Bajuin.

Setelah semua syarat terpenuhi, anak muda yang sakti itu mulai mendaki puncak Bukit Bajuin pada waktu yang telah ditentukan. Ia tak lupa membawa sebilah senjata tradisional suku Biaju, yakni parang bungkul.

Senjata tersebut mampu melindungi Halaban dari berbagai macam gangguan. Selain itu, ia juga membawa butah alias wakul besar yang terbuat dari rotan. Wakul tersebut berisi ayam, bunga, dan bibit pohon.

Lereng Bukit Bajuin

Dalam perjalanan menuju puncak, Halaban harus melewati tiga lereng. Pada lereng bukit pertama, ia harus menghadapi biawak putih yang sangat besar. Anehnya, biawak itu dapat berbicara layaknya manusia.

“Di hari yang sangat panas ini, apakah yang sedang kau cari anak muda?” tanya biawak itu menyapa Halaban.

Halaban pun terkejut. Ia tak menyangka bila ada seekor biawak yang bisa berbicara. “Namaku Halaban. Aku hendak menyelesaikan tugas dari seorang yang butuh bantuan,” ucap pemuda sakti itu.

“Hmm, tugas apa itu? Kau harus menceritakannya padaku. Bila tidak, aku tak akan mengizinkanmu melewati lereng ini,” ucap biawak putih itu.

Halaban lalu menceritakan tujuannya datang ke bukit Bajuin. Ia mengatakan bahwa dirinya hendak mengambil air dari puncak bukit untuk mengobati anak dari seorang saudagar yang sedang sakit keras.

Mendengar jawaban tersebut, biawak putih pun menganggukan kepalanya. “Ternyata kau menjalankan tugas yang teramat mulia. Boleh saja kamu mengambil air dari puncak. Tapi, ada syarat yang harus kau penuhi,” kata biawak putih.

“Syarat apakah itu, Tuan?” jawab Halaban.

“Kau harus membawa seutas tali dari kayu bilaran yang tumbuh tak jauh dari sekitar air terjun. Tapi, kau harus berhati-hati saat mengambil seutas tali itu. Sebab, pohon itu dijaga oleh ular berbiasa. Tali itu nanti bisa kau gunakan untuk mendaki bukit,” ucap sang biawak.

“Baiklah, Tuan. Akan segera kudapatkan tali dari kayu bilaran. Terimakasih atas bantuannya,” ucap anak muda itu.

Melawan Ular Tedung

Sesampainya di dekat air terjun, ia melihat ada banyak pohon bilaran. Saat hendak mengambil seutas tali, ada seekor ular tedung yang mendesis. Ular tersebut sangat besar dan mengerikan. Ular tedung membuka mulutnya dan hendak memakan Halaban.

Dengan cepat, anak muda ini mengambil senjatanya dan menangkis mulut sang ular dengan kencang. Meski sempat terlempar, ular itu dengan cepat mendekati Halaban dan menyerangnya.

Karena tak ingin membunuh sang ular, anak muda ini lalu menjepit kepala ular itu dengan ranting. Ia lalu membuang sang ular ke semak-semak. Ia sebenarnya sedikit merasa bersalah pada ular tedung karena telah mengusik tempat peristirahatannya.

Setelah berhasil mengalahkan ular, Halaban lalu mengambil tali dari pohon bilaran. Setelah beristirahat sejenak, ia kemudian melanjutkan pendakiannya menuju lereng bukit kedua. Berkat tali dari pohon bilaran, ia mampu melewati lereng bukit kedua dengan mudah.

Di lereng itu, ia menemukan hamparan batu-batu besar yang memiliki air terjun sangat indah. Suasananya sangatlah tenang dan menyejukkan. Halaban pun memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Bertemu Bangkui

Selesai beristirahat sejenak, ia pun bersiap untuk melanjutkan pendakian menuju lereng berikutnya. Tiba-tiba, muncul seekor bangkui atau monyet berwarna coklat kemerahan yang tubuhnya sangat besar.

Binatang itu merasa terusik dengan kedatangan Halaban. Dari tatapannya, bangkui jantan terlihat marah dan hendak menyerang Halaban. Tanpa rasa takut, anak muda ini justru mendekati bangkui.

Namun, bangkui malah terlihat makin marah. Hewan itu lalu berusaha menyerang anak muda yang sakti ini dengan cakar-cakarnya. Namun, Halaban tak melakukan serang balik. Ia tak ingin melukai bangkui.

Sebab, sang ayah berpesan padanya untuk tak melukai makhluk lain. Halaban adalah anak yang berbakti, sehingga ia tak akan pernah melawan perintah orang tuanya. Melihat Halaban yang hanya menghindar tanpa melawan, bangkui makin geram.

Serangannya semakin menjadi-jadi. Namun, Halaban tetap terlihat tenang. Ia sama sekali tak ingin melayani serangan yang datang bertubi-tubi itu. Dengan penuh kesabaran, ia terus menghindari dari serangan bangkui.

Serangan bangkui pun semakin besar. Karena khawatir tak bisa menghindar lagi, Halaban pada akhirnya mengeluarkan parang bungkul miliknya dan mengenai lengan bangkui. Seketika, lengannya mengeluarkan darah.

Mengalahkan Bangkui

Bangkui pun terdiam dan menyadari bahwa Halaban bukanlah orang biasa. Ia lalu menundukkan kepalanya sembari memegang lengannya yang berdarah-darah. Melihat hal itu, Halaban merasa sangat bersalah.

“Maaf karena telah melukai tanganmu. Aku hanya khawatir karena kau bisa saja membunuhku,” ucap pemuda sakti itu.

Mendengar ucapan maaf pemuda itu, bangkui pun mundur perlahan. Tandanya, ia telah mengizinkan Halaban untuk melanjutkan perjalanan. Saat hendak pemuda sakti ini hendak pergi, tiba-tiba bangkui mengatakan sesuatu, “Maafkan aku anak muda. Ketahuilah, aku hanya ingin melindungi sesamaku,” ucap bangkui.

“Aku mengerti tujuanmu, Tuan. Sekali lagi aku minta maaf karena telah melukai tanganmu,” ucap Halaban.

“Tak mengapa, Nak. Lukaku akan segera sembuh. Aku akan menempelkan keong mas pada lukaku. Lantas, apa tujuanmu datang kemari?” tanya bangkui.

“Aku kemari hendak mengambil air dari puncak bukit, Tuan. Ada seorang anak kecil yang sedang sakit parah. Ia butuh air itu agar bisa sembuh,” jawab pemuda sakti ini.

“Hmm, tujuanmu sangatlah mulia. Tapi, berhati-hatilah, saat mendaki lereng puncak bukit, kamu akan mendengar suara mengerikan. Jangan goyah dan jangan takut. Tetap lakukan segala yang suara itu perintahkan,” ucap bangkui.

“Baiklah, Tuan. Terimakasih sudah memberitahuku,” jawab Halaban sembari berpamitan pada bangkui dan melanjutkan pendakian.

Menuju Puncak Bukit

Dengan seluruh tenaga, Halaban berusaha mendaiki puncak bukit menggunakan tali dari kayu bilaran. Pada saat mendaki, tiba-tiba ia mendengar suara dari tumpukan batu-batu besar.

“Apa maksud dan tujuanmu datang kemari anak muda?” ucap suara misterius itu.

Halaban terkejut dengan suara yang memekikkan telinganya. Ia menoleh ke sana kemari, tapi tak ada satu pun orang yang menampakkan dirinya. Ia lalu melanjutkan pendakiannya.

Tiba-tiba, suara itu kembali terdengar, “Wahai kau anak muda! Apa tujuanmu datang kemari? Siapakah dirimu?,” teriak suara yang terdengar seperti kakek-kakek itu.

Karena tak ingin mendapatkan masalah, Halaban pun menjawab pertanyaan itu. “Mohon maaf atas kelancanganku memasuki puncak perbukitan ini, Kek. Namaku adalah Halaban. Aku ingin mengambil sumber air dari puncak bukit untuk mengobati seorang anak yang sedang sakit-sakitan,” jawab pemuda pemberani ini.

“Wahai anak muda, ketahuilah, tak sembarang orang boleh mendaki puncak perbukitan ini, tanpa membawa syarat-syarat tertentu,” ucap suara menyeramkan itu.

“Aku telah membawa 1 ekor ayam hitam, bunga beraneka ragam, dan bibit tanaman, Kek. Apakah semua itu adalah persyaratannya?” jawab Halaban.

“Benar sekali anak muda! Sekarang, turutilah perintahku. Kau harus meletakkan tujuh kuntum bunga beraneka warna di atas batus paling besar. Lalu, lepaskanlah ayam hitam di hutan rimbun ini,” perintah sang kakek.

“Baiklah, Kek. Akan kuturuti semua perintahmu,” ujar pemuda itu. Setelah meletakkan ayam hitam dan bunga beraneka ragam, ia lalu bertanya pada suara misterius itu, “Lantas, harus kuapakan bibit pohon ini, Kek?”

“Tanamlah bibit-bibit itu dekat telaga yang ada di puncak bukit ini. Lalu, namailah pohon itu sama dengan namamu. Bila sudah selesai, maka kau boleh mengambil air dari telaga di puncak bukit ini sebanyak yang kamu mau,” ucap suara misterius itu.

“Terimakasih, Kek. Aku akan segera menyelesaikan perintahmu,” jawab Halaban.

Telaga Alam Banyu Batuah

Setelah mengambil air, Halaban pun segera menuruni lereng bukit dengan perlahan dan hati-hati. Sesampainya di kampung, ia langsung menyerahkan air bertuah itu pada anak laki-laki saudagar kaya raya.

Kepulangan Halaban tentunya mendapat sambutan meriah dari para warga dan sang saudagar. Mereka khawatir bila Halaban tak selamat saat mencoba mengambil air dari puncak bukit itu.

Setelah sampai dengan selamat, para warga sangat mengagumi Halaban. Mereka tak menyangka bila pemuda itu telah berani mempertaruhkan nyawanya demi mengambil air bertuah. Ucapan terima kasih pun tak berhenti Halaban dapatkan.

Beberapa hari setelah meminum air dari puncak bukit, anak dari saudagar kaya itu berangsung-angsur membaik. Ia pun sembuh dari penyakitnya setelah rutin meminum air itu. Betapa gembiranya hati sang saudagar kaya itu.

Tak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhan atas kesembuhan anaknya. Ia juga berterimakasih banyak pada Halaban dan ayahnya. Keluarga saudagar kaya raya itu lalu mengadakan acara syukuran atas kesembuhan anak laki-lakinya.

Berita kesembuhan anak saudagar kaya itu pun tersebar luas. Seluruh warga pun percaya bahwa air bertuah atau kerap disebut banyu batuah dari puncak Bukit Bajuin itu bisa menyembuhkan beragam penyakit. Oleh karena itu, masyarakat sekitar Pegunungan Bajuin menamakan tempat tersebut Telaga Alam Banyu Batuah.

Pesan Moral: Lihatlah betapa gigihnya perjuangan Halaban menuju puncak Bukit Bajuin. Meski ada banyak sekali rintangan yang menghadang, ia tetap berjuang dan tak mudah menyerah. Jangan lupa pula untuk bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan padamu. Ketika sang anak sembuh, saudagar kaya itu tak lupa mengucap syukur pada Tuhan.